Piru, PT.Penulisan awalan “La” pada nama Bupati Seram Bagian Barat Ir. Asri Arman, MT oleh media online Info Maluku.news.com menjadi sorotan sejumlah kalangan masyarakat. Ada yang menduga kalau penulisan kata La tersebut menimbulkan multi tafsir termasul dugaan motif penghinaan atau ejekan terhadap entitas tertentu.
Salah satu tokoh pemuda Huamual, Risman Laduheru kepada media ini menjelaskan, berita Info Maluku. News.com dengan judul “Buta Dalam Aturan Hukum, Niat Busuk Bupati SBB, La Asri Arman Penjarakan Ida Tomasoa Kandas” bertendensi negatif dengan niat tidak baik.
Risman menjelaskan, dalam dokumen akta kelahiran, ijasah hingga Kartu Tanda Penduduk (KTP) Ir. Asri Arman, MT tidak menggunakan ‘La’ di depan namanya, sekalipun memang ia memiliki garis etnis dari Buton. Dan pada pemberitaan lain dari media yang sama tidak mencantumkan ‘La’ pada depan nama Bupati SBB, Asri Arman.
“Sebetulnya kami tidak bermaksud menilai atau menduga namun penulisan LA yang disematkan di depan nama Bupati SBB, Asri Arman ini memiliki sensitifitas sosial. Karena bisa orang lain akan menduga atau menilai penyematan LA itu memiliki motif dan tujuan tertentu seperti merendahkan atau mengejek identitas etnis tertentu,” tandas Risman.
Untuk tidak menimbulkan spekulasi dan menghindari bias dari penulisan tersebut, ia berharap media tersebut dapat menjelaskan apa maksud dan tujuan menambah La pada depan nama Asri Arman. Apalagi Asri Arman adalah pejabat daerah di Kabupaten Seram Bagian Barat.
“Tidak semua etnis Buton itu menggunakan LA di didepan namanya. Penggunaan La pada depan nama khusus yang beretnis Buton itu memiliki makna dan simbol yang dihargai,” ujarnya.
Jika penulisan tersebut murni sebagai kesalahan atau kekeliruan dari redaksi, saran Risman, maka media yang bersangkutan harus menyampaikan klarifikasi dan meminta maaf. “Kami berharap ini harus menjadi pembelajaran bagi kita semua agar tidak menggunakan simbol-simbol adat dan budaya sebagai candaan dan hujatan karena kebencian terhadap seseorang,” tandasnya.
Kesalahan ini memang terlihat sederhana, kata dia, tetapi memiliki dampak yang tidak boleh diabaikan. Dalam konteks masyarakat Maluku yang kaya dengan keragaman suku dan adat istiadat, penggunaan awalan tertentu—termasuk “La”—mempunyai makna budaya yang kuat di wilayah asalnya. Karena itu, penyematan awalan tanpa dasar yang jelas dapat menimbulkan kesan keliru mengenai identitas pribadi maupun latar budaya seseorang.
Ia mengingatkan, setiap pemberitaan yang menyentuh aspek identitas budaya wajib memperhatikan ketepatan dan sensitivitas sosial. Kesalahan penulisan nama pejabat publik, apalagi yang berkaitan dengan unsur budaya, dapat membuka ruang tafsir beragam di tengah masyarakat.
Dalam prinsip jurnalistik yang baik, ingat dia, akurasi adalah fondasi. “Karena itu, kami mendorong setiap media yang telah menayangkan penulisan tidak tepat tersebut untuk melakukan koreksi redaksional guna menghindari salah pengertian di kemudian hari. Tindakan koreksi bukan hanya bentuk profesionalisme, tetapi juga penghormatan terhadap keberagaman suku yang mendiami Kabupaten Seram Bagian Barat,” ingatnya. (Sarman)